Senin, 01 Februari 2016

Belajar Kemandirian Dari Nabi Muhammad SAW



Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri. Kalau kita menelusuri jejak hidup beliau, akan kita temukan betapa beliau seorang yang sangat mandiri. Beliau tak segan mengerjakan pekerjaan kasar sebagaimana dikerjakan orang kebanyakan. Beliau sering menambal sendiri jubahnya, menjahit sepatunya, dan melakukan setumpuk pekerjaan rumah. Bagi beliau, pekerjaan kasar tidak mengurangi sedikitpun kemuliaannya sebagai Utusan Allah.

Bagi sebagian pemimpin, mengerjakan pekerjaan kasar seperti mencari kayu bakar akan dianggap hina, atau setidaknya mengurangi gengsi. Akan tetapi bagi Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, pekerjaan apapun yang dikerjakan secara jujur, profesional, dan bermanfaat untuk semua, maka pekerjaan itu adalah mulia. Kemuliaannya dan kehormatannya tidak berkurang sedikitpun hanya karena beliau mengerjakan pekerjaan kasar. Sebaliknya, beliau merasa bangga dan mulia jika bisa mengerjakan sendiri tugasnya, termasuk tugas kerumahtanggaan.

Rabu, 23 Desember 2015

Tersesat Di Cirebon Akibat Tidak Percaya Petugas



Melakukan perjalana jauh, memang mmbutuhkan banyak informasi. Disamping rambu-rambu lalu lintas, sumber informasi lainnya yang layak dipercaya adalah petugas. Baik itu polisi lalu lintas maupun petugas dari Dinas Perhubungan. 

Sebuah penglaman berharga kami dapatkan ketika melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi dari Bandung menuju Jogyakarta.

Suatu ketika, saya beserta anak-anak dan seorang ponaan bermaksud jalan-jalan ke Jogyakarta. Dari Bandung, kami berangkat malam hari, sekitar jam 20.00 WIB. Sengaja memilih perjalanan malam agar tidak terkena macet. Ini merupakan perjalanan pertama kali menggunakan kendaraan sendiri.

Rabu, 09 Desember 2015

Kisah Perjalanan Khalifah Umar bin Khaththab Ke Syam Dengan Budaknya



Dalam sebuah buku “Shalat Penuh Makna, Abdul Karim Muhammad Nashr”, diceritakan bagaimana Umar sebagai seorang pemimpin memperlakukan seorang budak.

Ketika Umar bin Khaththab r.a mengadakan perjalanan ke Syam, ia bergantian menaiki kendaraan dengan budaknya. Setelah mengendarai unta sejauh satu farsakh sementara budaknya memegangi tali kekang unta itu, Umar turun dan menyuruh budaknya untuk menaiki unta. Bergantian, Umar yang memegangi tali kekangnya dan dituntunnya sejauh satu farsakh. Begitulah mereka berdua melakukannya sampai ketika dekat Syam, tibalah giliran budak itu yang menaiki unta, sedang Umar yang memegangi tali kekang unta.

Rabu, 18 November 2015

Bahayanya Mengikuti Orang Lain Tanpa Ilmu



Dalam menjalani kehidupan didunia ini, peluang untuk salah jalan akan terbuka apabila kita selalu mengikuti orang lain tanpa pengetahuan. Tidaklah salah mengikuti orang lain sepanjang kita mengetahui bahwa orang tersebut memang berada dijalan yang benar dan selalu mengikuti rambu-rambu kehidupan. Apakah itu nilai-nilai agama ataupun tatacara bermasyarakat.

Suatu ketika dalam perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru,  saya mendapatkan sebuah pengalaman berharga.  Di wilayah Propinsi Jambi, kami tersesat sejauh 8 KM. Waktu itu tengah malam. Didalam kendaraan, saya berdua dengan seorang putra. Jalanan sepi, dikiri kanan hutan.

Rabu, 11 November 2015

Kisah Perjalanan Umar Bin Khattab Ke Syam Dengan Budaknya



Dalam sebuah buku “Shalat Penuh Makna, Abdul Karim Muhammad Nashr”, diceritakan bagaimana Umar sebagai seorang pemimpin memperlakukan seorang budak.

Ketika Umar bin Khaththab r.a mengadakan perjalanan ke Syam, ia bergantian menaiki kendaraan dengan budaknya. Setelah mengendarai unta sejauh satu farsakh sementara budaknya memegangi tali kekang unta itu, Umar turun dan menyuruh budaknya untuk menaiki unta. Bergantian, Umar yang memegangi tali kekangnya dan dituntunnya sejauh satu farsakh. Begitulah mereka berdua melakukannya sampai ketika dekat Syam, tibalah giliran budak itu yang menaiki unta, sedang Umar yang memegangi tali kekang unta.

Selasa, 03 November 2015

Bersalaman Dengan Bukan Mahram Adalah Kemungkaran



Syaikh Isham bin Muhammad Asy-Syarif didalam bukunya “Berbagai Penyimpangan Dalam Rumah Kita” mengemukakan, bahwa berjabat tangan atau bersalaman dengan yang bukan mahram adalah sebuah kemungkaran. 

Dalam buku yang judul aslinya “Mukhalafat fi Buyutina “ itu, Syaikh Isham, menjelaskan  berjabat tangan merupakan salah satu kemungkaran. Yang dimaksud ialah jabat tangan seorang wanita dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya dan jabat tangan seorang lelaki dengan seorang wanita yang juga bukan mahramnya. Menurut syariat, hal itu hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu anha, dia berkata:” Tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh wanita kecuali beliau memiliki (pernikahan)nya.(Diriwayatkan Al Bukhari)

Rabu, 28 Oktober 2015

Panasnya Api Neraka



Siksaan di neraka  sangat luar biasa menyengsarakan. Jangan pernah merasa mampu menahan azab neraka. Penderitaan di neraka amat sangat tak sebanding dengan kesusahan di dunia. Peluang untuk keluar dari kesusahan di dunia selalu ada. Peluang untuk terhindar dari siksaan neraka juga ada di dunia ini. Oleh sebab itu, manfaatkan sebaik-baiknya waktu yang masih ada.

Didalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh Muhammad Nasib ar-Rifa’I jilid 2 halaman 454-455, dijelaskan tentang panasnya api neraka itu. Diriwayatkan dari Imam malik dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: