Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 November 2017

Pengalaman Di Penyeberangan Merak-Bakauheni



Kehidupan terus berjalan. Banyak hal yang berubah. Mempersiapkan diri menghadapi perubahan itu perlu. Dapat membandingkan suatu kondisi dimasa lalu dengan masa kini, merupakan “rahmat” yang layak disyukuri. Salah satu perubahan yang saya rasakan adalah kondisi penyeberangan Merak-Bakauheni. Penyeberangan ini menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Dimusim liburan, penyeberangan Merak-Bakauheni selalu ramai. Apalagi pada liburan hari Raya Idul Fitri. Sebagai salah satu lintasan mudik, penyeberangan Merak-Bakauheni akan menjadi sangat ramai.
Beberapa kali melintasi Merak-Bakauheni di tahun 1990 an menggunakan kendaraan pribadi, memberi kesan tersendiri. Waktu itu, antrian kendaraan pribadi berada di Terminal 3. Saat-saat menunggu masuk ke kapal penyeberangan, dimanfaatkan untuk saling tukar informasi.
Ada pemandangan yang menarik. Pengemudi dan penumpang membentuk kelompok-kelompok kecil. Berkumpul disekitar kendaraannya. Topik pembicaraan umumnya seputar kondisi jalan. Informasi tentang jalan memang sangat dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan waktu itu.

Minggu, 08 Januari 2017

Lupa Yang Tak Terlupakan (2)



Suatu ketika, disebuah masjid saya melihat seorang kenalan. Saya pernah satu kantor dengannya. Cukup lama. Belasan tahun, Namun, sejak pindah tugas ke kota ini, saya belum pernah bertemu lagi. Sebagai seorang kenalan, saya hampiri beliau dan berbincang-bincang. Setelah agak lama berbincang, beliau mengemukakan sebuah pertanyaan yang membuat saya kaget. “Bapak siapa”?: katanya. Saya tidak menduga bahwa dia sudah lupa. Belum terlalu lama saya pindah tugas. Dengan sedikit kesal, saya menyebutkan nama lengkap termasuk embel-embelnya. Mendengar itu, dia tertawa.

Diluar dugaan saya dia bisa lupa. Sebab, tidak hanya satu kantor tetapi kami juga menjadi pengurus dari sebuah organisasi. Saya sebagai ketua dan dia bendaharanya.  Kenyataannya dia lupa. Lupa yang tak terlupakan bagi saya.

Jumat, 23 Desember 2016

Lupa Yang Tak Terlupakan



Lupa sudah menjadi tabiatnya manusia. Dengan bertambahnya umur, boleh jadi bertambah banyak pula yang dilupakan. Namun, terkadang, lupa bukan disebabkan faktor usia. Tempat dan suasana, dapat juga menjadi penyebab timbulnya lupa. Saya pernah mengalami beberapa kali lupa yang tidak dapat saya lupakan.

Suatu ketika di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Saya dikejutkan dengan hadirnya seorang ibu-ibu paruh baya. Waktu itu saya baru kembali dari toilet. Terlihat isteriku sedang berbicara dengan seorang ibu. Ketika melihatku, ibu tersebut senyum ramah. Setelah kudekati, si ibu berdiri menyalami dan mencium tanganku. Aku kaget. Beraninya ibu ini mencium tanganku didepan isteriku. Isteriku hanya senyum-senyum. Mungkin merasa penasaran karena aku terlihat bingung, si ibu mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menyebutkan nama paggilannya. Barulah kau sadar, bahwa dia adalah adik sepupuku.  Aku benar-benar lupa. 

Kalau boleh beralasan mengapa saya bisa lupa dengan adik sendiri, maka tempatlah yang menjadi penyebabnya. Saya tidak pernah menduga akan bertemu dengan adik saya itu di Bandara Sukarno Hatta. Sebab, bandara ini jauh dari tempat tinggal kami.

Sabtu, 18 Juni 2016

Menunggu Beduk Berbunyi (kenangan Masa Kecil)



Setiap kali memasuki bulan Ramadhan, saya teringat masa kecil dulu. Kota ini belum seperti sekarang ini. Informasi masuknya waktu berbuka hanya melalui siaran radio (RRI) dan bunyi beduk. Bagi anak-anak seusia saya, bunyi beduk merupakan tanda berbuka yang sangat ditunggu-tunggu.

Didekat tempat kediaman kami, ada sebuah surau. Bangunan bertiang (panggung), yang terbuat dari papan. Pengurus surau itu biasa kami panggil Mbah Mudin. Ketika berpuasa, bagi kami Mbah Mudin sosok yang menarik perhatian. Salah satu tugasnya adalah memukul beduk tanda masuknya waktu berbuka. 

Rabu, 23 Desember 2015

Tersesat Di Cirebon Akibat Tidak Percaya Petugas



Melakukan perjalana jauh, memang mmbutuhkan banyak informasi. Disamping rambu-rambu lalu lintas, sumber informasi lainnya yang layak dipercaya adalah petugas. Baik itu polisi lalu lintas maupun petugas dari Dinas Perhubungan. 

Sebuah penglaman berharga kami dapatkan ketika melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi dari Bandung menuju Jogyakarta.

Suatu ketika, saya beserta anak-anak dan seorang ponaan bermaksud jalan-jalan ke Jogyakarta. Dari Bandung, kami berangkat malam hari, sekitar jam 20.00 WIB. Sengaja memilih perjalanan malam agar tidak terkena macet. Ini merupakan perjalanan pertama kali menggunakan kendaraan sendiri.

Rabu, 15 April 2015

Berhasil Menjadi Sarjana Berkat Doa Ibu



Suatu ketika dulu, saya mendaftarkan diri disebuah perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan administrasi, saya berkunjung ke ibu yang tinggal dilain kota. Tujuannya, bersilaturrahim dan mohon doa.

Saya diterima dan memulai aktivitas perkuliahan. Terasa berat karena kuliah sambil bekerja. Ditambah lagi masalah biaya. Hampir setiap akan melakukan registrasi untuk semester berikutnya, saya berhutang. 

Rabu, 05 November 2014

Berhasil Lulus Ujian Berkat Doa Ibu



Suatu ketika dulu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti ujian kedinasan. Ujian ini menentukan seseorang untuk dapat mengikuti pendidikan jenjang karir. Sebenarnya, saya sudah pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan tersebut tanpa testing. Namun gagal dengan sebab yang tak jelas. 

Ketika akan mengikuti ujian tersebut, saya sengaja singgah di kota tempat domisili orang tua. Saya bekerja di sebuah kota Kabupaten. Sedangkan orang tua saya berdimisili di Ibu kota Propinsi. Tempat ujiannya di ibukota propinsi lain. Sarana transportasi dari kota tempat saya bekerja ke kota tempat ujian, tersedia. Baik melalui laut maupun udara. Kesempatan singgah di kota tempat domisili orang tua, saya gunakan untuk bersilaturrahmi dan memohon doa.

Peserta ujian dari propinsi tempat saya bekerja berjumlah sekitar belasan orang. Ada empat propinsi yang mengirimkan karyawan untuk mengikuti ujian tersebut. Ujian dilaksanakan oleh institusi tingkat nasional.
Beberapa waktu kemudian, saya mendapat panggilan langsung dari pusat untuk mengikuti pendidikan. Ternyata saya lulus seleksi dan satu-satunya yang lulus tak bersyarat. Karenanya dapat langsung mengikuti pendidikan di Ibukota.

Rabu, 03 September 2014

Memancing Dan Berenang Di Sungai Sail Pekanbaru Riau



Sebuah keindahan saya rasakan ketika mengenang kembali masa kecil. Banyak aktivitas kala itu yang masih melekat dipikiran. Salah satu diantaranya adalah ketika menghabiskan hari libur sekolah dengan memancing di sungai Sail Pekanbaru, Propinsi Riau.

Waktu itu, Jl. Hang Tuah Pekanbaru hanya sampai asrama PHB atau di sekitar Pasar Sail Sekarang. Orang tua saya bertempat tinggal di Jl. Riau (sekarang Jl. Hasanuddin). Sungai Sail masih relatifbersih. Airnya kemerahan. Disekitarnya berupa rawa-rawa. Sungai dan rawa-rawa inilah tempat kami memancing ikan. Ikan yang sering didapat adalah gabus dan pantau. Terkadang juga ada ikan tapah dan lele. 

Rabu, 20 Agustus 2014

Berbagi Pengalaman Menggunakan Commuter Line



Dengan lancarnya kami memberikan penjelasan kepada seorang ibu yang hendak bepergian menggunakan kereta api. Ketika itu, kami sedang berada didalam sebuah angkutan kota di sekitaran Serpong, Tangerang. Isteri saya menyapa seorang ibu setengah baya. Ternyata tujuan si ibu adalah stasiun Serpong. Dari stasiun Serpong, si ibu hendak pergi kesebuah stasiun di wilayah Jakarta. Tetapi dia belum tahu caranya.

Sebenarnya kami bukanlah penduduk Jakarta. Kami berdomisili di sebuah kota di Sumatera. Salah seorang anak kami berdomisili di kawasan Cisauk, Tangerang. Kesempatan mengunjungi anak ini kami manfaatkan untuk berjalan-jalan di ibu kota. Fasilistas umum yang tidak terganggu kemacetan adalah kereta api dan bus way. 

Rabu, 13 Agustus 2014

Shalat Idul Adha Dalam Hujan Gerimis



Ada yang berbeda pada shalat Idul Adha tahun itu. Shalat dilaksanakan disebuah lapangan sepak bola. Masih didalam kota Pekanbaru-Riau. Lapangan sepak bola tempat penyelenggaraan shalat Id lumayan penuh.  Walaupun pada dini harinya turun hujan gerimis.  Tanah dan rumputnya memang agak basah. Panitia sudah mengantisipasi dengan memasang tikar plastik.

Pelaksanaan shalat direncanakan pada pukul 07.30 WIB. Namun, karena  tetes-tetes hujan mulai turun,  dipercepat  sekitar 10 menit.  Ketika shalat dimulai, gerimis mulai turun. Tentu saja jemaah tetap bertahan. Selesai shalat,  gerimis semikin besar. Bebarapa orang mulai meninggalkan lapangan bola itu. Namun, masih banyak yang bertahan.

Khatib  berusaha mempersingkat khutbahnya. Gerimis terus saja.  Saya dan jemaah lainnya tetap bertahan. Khutbah selesai, jemaah segera bubar menuju kendaraan atau rumah masing-masing.  Terlihat, pakaian, mukena dan sajadah basah kena air hujan.  Namun, wajah-wajah jemaah tetap terlihat ceria.  Wajah ceria di Idul Adha.  Kesempatan bersalaman dengan kerabat juga tidak dilewatkan.
Pekanbaru, April 2014

Rabu, 16 Juli 2014

Pengalaman Menggunakan KRL Commuter Line



Beberapa kali anak saya mencoba memberikan penjelasan tentang bagaimana caranya memanfaatkan KRL sistem commuter line. Namun, saya belum dapat memahaminya dengan baik. Mungkin karena saya termasuk kelompok orang yang tidak mudah menyimpan informasi. Apalagi informasi tentang sesuatu yang belum pernah saya alami. Ditambah lagi, saya berdomisili disebuah kota yang tidak memiliki fasilitas kereta api.

Keinginan untuk dapat berjalan-jalan di ibu kota Jakarta dengan biaya relatif murah dan tidak tergantung kepada pengantar, mendorong kami memberanikan diri menggunakan KRL commuter line. Distasiun, kami banyak bertanya dengan petugas. Tentu saja para petugas ini tidak dapat memberikan penjelasan rinci. Maklum saja, stasiun di Jakarta dan sekitarnya itu banyak. Jalur KRL juga banyak. Kami disarankan untuk bertanya kembali setelah tiba distasiun berikut. 

Rabu, 16 April 2014

Belajar Kemandirian, Kebersihan Dan Ketertiban Di Jepang


Ketika keluar dari Bandara Narita, saya harus membawa sendiri koper. Tidak ada portir. Setibanya dihotel, saya kembali harus membawa koper sendiri. Habis cek in, diberi kunci kamar, lagi-lagi koper bawa sendiri dan kamarnya cari sendiri. Resepsoinis hanya memberitahu dilantai berapa. Tidak ada petugas hotel yang akan membawakan barang-barang ke kamar.

Masih banyak lagi  yang harus urus sendiri selama berada di Jepang. Jadwal makan siang, sering kali di pusat jajanan. Pada jam istrirahat, makanan di pilih sendiri dan pesan sendiri. Makanan bawa sendiri ke meja makan. Selesai makan, peralatan berupa piring, gelas, sendok dan garpu, antar sendiri ke tempat pencucian. Tidak ada pelayan yang akan mengantar makanan dan mengambil peralatan makan. Semuanya serba sendiri.
Pada awalnya, memang terasa sedikit tidak nyaman. Tetapi setelah melihat, bahwa semua orang diperlakukan sama dan melakukan hal yang sama, maka tidak ada pilihan lain. Ikuti polanya dan nikmati. Lama-lama menjadi terbiasa dan asyik juga.

Selasa, 08 April 2014

Mengajari Anak Agar Gemar Memberi (Pengalaman Ketika Haji)


Ketika berkunjung ke sebuah kota, saya membaca spanduk yang berisi larangan memberi kepada pengemis. Bahkan, ada sanksi terhadap perbuatan tersebut. Menurut saya, pengemis sudah menjadi masalah bagi kota tersebut sehingga harus dibuatkan peraturan daerah  untuk mengatasinya. 

Di kota lain, melalui mediamassa saya mendapat informasi adanya razia terhadap pengemis dan gelandangan. Hal ini dilakukan berulang kali. Berarti, pengemis dan gelandangan, juga menjadi masalah. 

Mencermati fenomena ini, saya teringat akan sebuah pengalaman. Ketika itu hari Jum’at dimusim Haji. Saya berada di sebuah masjid dikawasan Aziziah- Simaliyah Makkah. Didalam masjid saya melihat seorang orang tua (kakek?)sedang membuka ikatan sejumlah tasbih kecil. Setelah terbuka ikatannya, tasbih-tasbih tersebut diberikan kepada seorang anak laki-laki ( cucu ?). Dengan isyarat tangan, si kakek menyuruh cucunya membagi-bagikan tasbih kepada para jemaah.

Kamis, 13 Maret 2014

Berdomisili Diwilayah Tak layak Huni


Tanggal 12 Maret 2014, dilaksanakan shalat meminta hujan disalah satu halaman masjid di kota ini. Pada siangnya, salah satu media televisi menyiarkan berita bahwa, kondisi udara wilayah ini sudah mencapai level ”Berbahaya”. Diinformasikan, dengan kondisi udara pada level berbahaya, maka wilayah ini sudah tidak layak huni. Lalu???

Ketika keluar rumah menuju masjid, saya menggunakan masker dan kaca mata walaupun jarak rumah dan masjid tidak jauh. Diperjalanan, saya melihat beberapa orang dengan tenangnya beraktivitas diluar rumah tanpa masker. Bahkan, ada yang merokok. Ada apa ini???

Rabu, 27 November 2013

Kebaikan Yang Dibayar Tunai (Pengalaman Sehari Di Jakarta)


Suatu hari, setelah shalat jum’at di masjid Istiqlal Jakarta, kami menuju stasiuan Juanda. Letak stasiun Kereta Api Juanda sekitar 200 m dari masjid Istiqlal. Rencananya, kami akan kembali ke kediaman di Cisauk Tangerang dengan menggunakan kereta api. Dari stasiun Juanda, kami akan turun di stasiun Manggarai dan pindah kereta untuk jurusan Tanah Abang. Dari Tanah Abang ini naik kereta ke Serpong.

Di stasiun Juanda, kami melihat seorang asing mendatangi petugas dan bertanya apakah ada yang bisa berbahasa Inggeris. Melihat petugas sedikit kebingungan, kami hampiri dan mencoba menjadi penengah (penterjemah?)

Rabu, 10 Juli 2013

Memancing Di Sungai Siak, Riau Di Bulan Ramadhan (Kenangan Masa Kecil)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu. Sebab, bulan Ramadhan adalah masa libur panjang sekolah. Hari-hari dapat diisi dengan berbagai aktivitas hobbi. Hari-hari terlepas dari kewajiban kesekolah. Masa-masa yang menyenangkan karena dapat bermain sesukanya.

Aktivitas yang biasa saya lakukan bersama teman-teman sebaya adalah memancing ke Sungai Siak. Jaraknya sekitar 1 jam berjalan kaki dari rumah. Pagi-pagi sekali, kami sudah berangkat dari rumah dengan membawa pancing dan umpan (cacing). 

Rabu, 05 Juni 2013

Bulan Ramadhan Dan Membuat Gelamai (Dodol),(Kenangan Ramadhan)

Beberapa orang laki-laki sibuk mengupas kelapa dan langsung membelahnya. Sebagian yang lain dibantu oleh ibu-ibu sibuk memarut kelapa. Parutan kelapanya masih manual (tradisional). Ada pula yang menyiapkan tungku dari batu bata dan diatasnya diletakkan kuali besar yang sudah dibersihkan. Bahan bakarnya kayu kering.

Kelapa yang sudah diparut, diperas santannya. Santan kental, tepung ketan, gula merah dimasukkan kedalam kuali menurut urutan tertentu. Ditambah bumbu lainnya. Semuanya diatur oleh nenek yang kami panggil Uwak. Uwak merupakan komandan dalam gotong royong membuat gelamai (dodol) menyambut hari raya. Tugas yang paling berat adalah mengacau (mengaduk adonan) santan, gula merah dan tepung ketan dikuali besar. Awalnya ringan-ringan saja. Makin lama makin berat. Sebab, adonan makin mengental. Tugas ini dilakukan oleh dua orang secara bergantian.

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Pendorong Sepeda Pengangkut Sayur Di Pekanbaru


Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, beberapa orang remaja berlari disepanjang pendakian Jl. Hang Tuah Pekanbaru. Lokasinya antara Sungai Sail dan Asrama PHB (dekat Pasar Sail). Mereka menawarkan jasa mendorong sepeda kepada para penjual sayuran yang melalui jalan tersebut.

Waktu itu, wilayah Kulim dibagian timur Kota Pekanbaru merupakan sentra produksi sayur-sayuran. Para petani menggunakan sepeda untuk membawa sayuran ke Pasar Pusat. Sayuran itu berupa singkong, daun singkong, kacang panjang dan lain-lain. Para petani ini memaksimalkan sepedanya untuk membawa sayuran.

Rabu, 15 Mei 2013

Beraktivitas Dan Minum Secangkir Kopi


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 km dengan menggunakan sepeda motor, saya berhenti di Danau Bengkuang. Danau Bengkuang adalah nama sebuah desa di Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Saya langsung memesan secangkir kopi hitam, sedangkan isteri saya memesan kopi susu. Kami memilih warung yang lokasi nya memungkinkan kami melihat lalu-lintas kendaraan. Dikiri dan kanan jalan Danau Bengkuang ini terdapat beberapa warung penjual lepat bugis. 

Minum kopi sambil melihat-lihat lalu lintas kendaraan, merupakan aktivitas yang memberi kenyamanan bagi kami. Sebuah rekreasi dengan biaya relatif murah dan mudah melakukannya. Sudah beberapa kali kami mengunjungi desa Danau Bengkuang hanya untuk minum kopi dan makan lepat bugis. Kami sangat menikmati rekreasi tersebut. 

Rabu, 01 Mei 2013

Ratusan Kalong Dan Musim Buah Rambutan


Suatu petang, ketika hendak pulang kerumah, saya melihat seekor kalong terbang tinggi melintas. Hanya seekor. Tetapi cukup menarik perhatian. Sudah beberapa tahun belakangan ini saya tidak melihat kalong. Saya berhenti dan terus memperhatikan kalong itu sampai hilang dari penglihatan. Saya teringat pada suatu masa dulu, ratusan kalong melintas di sekitar tempat tinggal kami. Kalong-kalong itu menjadi pemandangan menarik.  Apalagi disuasana petang menjelang malam. Sebuah pemandangan indah ketika ratusan kalong terbang dengan latar belakang langit yang memerah.