Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Agustus 2013

Pernyataan Imam Malik Bin Anas Untuk Mengikuti Sunnah

Imam Malik bin Anas menyatakan:
Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.(a)

Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.(b)

Rabu, 20 Februari 2013

Pernyataan Imam Abu Hanifah Untuk Mengikuti Sunnah

Para murid Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu tujuan, yaitu kewajiban berpegang pada Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap membeo pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ucapan beliau :

Jika suatu hadits shahih, itulah mazhabku.
Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu darimana kami mengambil sumbernya.

Senin, 21 Januari 2013

Pernyataan Imam Ahmad Bin Hambal Untuk Mengikuti Sunnah

Ahmad bin Hambal merupakan seorang imam yang paling banyak menghimpun Hadits dan berpegang teguh padanya, sehingga beliau benci menjamah kitab-kitab yang memuat masalah furu’ dan ra’yu.
Beliau menyatakan sebagai berikut:

Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.

Selasa, 25 Desember 2012

Pernyataan Imam Syafi'i Untuk Mengikuti Sunnah


 Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafi’i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus dan para pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesannya dan lebih beruntung. Beliau berpesan antara lain :

1. Setiap orang harus  bermadzhab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang menjadi pendapatku. 

2. Seluruh kaum muslim telah sepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu Hadits dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.

Selasa, 19 Juni 2012

Khalifah Abu Bakar Dengan Kepemimpinan Dan Kekayaan

Ambisi untuk menjadi pemimpin, sudah terlihat jelas ditengah-tengah masyarakat. Mulai dari pemimpin dilingkungan kecil, sampai dengan pemimpin disebuah wilayah dan negara. Ambisi itu dapat dilihat dari usaha yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah jabatan. Lebih terlihat lagi ketika usaha itu tidak berhasil. Banyak yang tidak dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. Ambisi terhadap kepemimpinan itu boleh jadi berhubungan dengan fasilitas dan kekayaan.

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya selalu berusaha berpegang teguh kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Sejarah telah membuktikan, bahwa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa umat Islam mencapai kejayaan. Memberikan kesejahteraan kepada umat manusia.

Pola kepemimpinan dalam Islam, meliputi teori dan contoh nyata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat adalah contoh teladan bagi pemimpin. Salah satu kisah para Sahabat saya kutip dari buku “ Tempat-tempat bersejarah di Madinah Munawwarah, Imtiaz Ahmad”. Kisah tentang  Khalifah Abu Bakar dan Umar terhadap kepemimpinan.

Disebutkan oleh Ibnu Aseer bahwa Abu Bakar ra telah berkata :” Barang-barang baru apa saja yang telah aku kumpulkan  semenjak aku menjadi Khalifah?”. Ia diberi tahu tentang tiga barang berikut :
a.      Seekor unta yang digunakan untuk mengambil air.
b.      Seorang budak untuk mengasuh anak-anak dan juga mengasah pedang-pedang dari Ummat Muslim.
c.       Satu potongan kain seharga kurang dari satu Saudi Rial sekarang.
Ia berwasiat untuk menyerah-terimakan barang-barang ini kepada Khalifah yang berikutnya setelah kematiannya.

Ketika Umar ra menerima barang-barang ini, ia tidak dapat menahan tangisan dan ia secara terus menerus berkata :” Wahai Abu Bakar  ra, kamu telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit dengan tauladan yang luar biasa darimu ini.”
Ini merupakan peringatan bagi mereka yang memegang jabatan publik dan kemudian menghimpun kekayaan tidak sah.

Dari kisah ini, dapat kita ambil pengajaran berharga. Begitu besar dan perdulinya Khalifah Abu Bakar r.a dan Umar r.a terhadap amanah, apalagi  yang berupa harta. Kitapun patut bersikap seperti itu. Sebab, selain pertanggung-jawaban didunia, ada lagi pertangung-jawaban nati di akhirat. Hidup didunia bukanlah segala-galanya.
Bandung, Juni 2012

Rabu, 16 Mei 2012

Pengadilan Khalifah Umar Bin Khattab


Suatu hari, Syuraih bin al–Harits al-Kindi kedatangan Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab bersama seorang penjual kuda. Keduanya bermaksud mengadukan permasalahan yang sedang mereka hadapi dan meminta Qadhi (hakim) Syuraih untuk memutuskannya.

Syuraih mempersilakan si penjual kuda untuk menjelaskan maksud kedatangannya. Lalu ia menjelaskan bahwa suatu hari Khalifah ‘Umar membeli seekor kuda darinya. Namun, selang beberapa hari ‘Umar mengembalikan kuda tersebut dan menuntut ganti rugi.

Setelah mendengar penjelasan sipenjual kuda, Syuraih kemudian mempersilakan Khalifah Umar untuk memberikan penjelasan. “Umar yang mengangkat Syuraih jadi hakim ini pun menjelaskan bahwa ia mengembalikan kuda tersebut dan menuntut ganti rugi , karena kuda itu berpenyakit dan cacat sehingga larinya tidak kencang.

Rabu, 13 Juli 2011

Sikap Abu Bakar RA Terhadap Barang

Disebutkan oleh Ibnu Aseer bahwa Abu Bakar RA telah berkata :” Barang-barang baru apa saja yang telah aku kumpulkan  semenjak aku menjadi Khalifah?”. Ia diberi tahu tentang tiga barang berikut :
a.      Seekor unta yang digunakan untuk mengambil air.
b.      Seorang budak untuk mengasuh anak-anak dan juga mengasah pedang-pedang dari Ummat Muslim.
c.       Satu potongan kain seharga kurang dari satu Saudi Rial sekarang.
Ia berwasiat untuk menyerah-terimakan barang-barang ini kepada Khalifah yang berikutnya setelah kematiannya.
Ketika Umar RA menerima barang-barang ini, ia tidak dapat menahan tangisan dan ia secara terus menerus berkata :” Wahai Abu Bakar  RA, kamu telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit dengan tauladan yang luar biasa darimu ini.”
Ini merupakan peringatan bagi mereka yang memegang jabatan publik dan kemudian menghimpun kekayaan tidak sah.
(Sumber : Tempat-tempat bersejarah di Madinah Munawwarah, Imtiaz Ahmad)